PKBM Waluyo Utomo

Kondisi salah satu ruang PKBM Waluyo Utomo pasca banjir.

KETERTARIKAN PROGRAM SEKOLAH LAPANG KELAUTAN DAN PERIKANAN

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia berdasarkan jumlah pulaunya (17.508 pulau) dan panjang pantai Indonesia mencapai 95.181 km (World Resources Institute, 1998) dengan wilayah luas laut 5,4 juta km2, mendominasi total luas teritorial Indonesia sebesar 7,1 juta km2. Fakta ini menempatkan Indonesia sebagai negara yang dikaruniai sumber daya kelautan yang besar termasuk kekayaan keanekaragaman hayati dan non hayati kelautan terbesar. Namun ironisnya penduduk Indonesia yang bermatapencaharian sebagai nelayan justru masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan dan dianggap sebagai golongan marinal.
Jumlah nelayan miskin di Indonesia pada tahun 2011 mencapai 7,87 juta orang atau 25,14 persen dari total penduduk miskin nasional yang mencapai 31,02 juta orang. Jumlah 7,87 juta orang tersebut berasal dari sekitar 10.600 desa nelayan miskin yang terdapat di kawasan pesisir di berbagai daerah di tanah air. Beberapa penyebab nelayan di Indonesia masih dalam kondisi yang belum sejahtera dan dianggap golongan marginal seperti cara penangkapan yang masih tergolong tradisional, pendidikan, dan sistem rantai penjualan.
Salah satu contohnya selama ini nelayan mengalami kesulitan dalam hal perizinan penangkapan ikan, akibatnya nelayan tidak dapat leluasa dalam mencari ikan. Selain itu para nelayan yang masih menggunakan perlengkapan tradisional, kerap dihadang cuaca buruk dan gelombang tinggi di laut. Kondisi itu menyebabkan mereka tidak dapat melaut sama sekali sehingga tidak ada penghasilan untuk keluarga. Rendahnya pendidikan di kalangan nelayan dan masyarakat pesisir sampai saat ini disebabkan oleh berbagai faktor mulai dari infrastuktur, sumberdaya manusia dan kepedulian akan pentingnya pendidikan. Ketiga faktor itu sangat terkait, sehingga diperlukan penanganan yang intensif dan keberlanjutan.
Di beberapa daerah pesisir seperti di Bengkalis (Riau), Karawang (Jabar), Bulukumba (Sulawesi Selatan) para anak nelayan usia sekolah tidak mau sekolah. Bahkan masalah biaya juga bukan semata-mata menjadi penyebabnya, karena saat ini beberapa sekolah sudah tidak dibebankan iuran bulanan, namun adanya ketidaknyamanan ketika berada dalam sekolah formal seperti jam sekolah yang kaku dan kewajiban memakai seragam. Padahal mereka sudah terbiasa dengan kondisi pesisir dan kegiatan melaut. Rutinitas belajar yang umum tidak bisa kita paksakan kepada masyarakat pesisir. Salah satu solusinya adalah dengan cara penyampaian atau kurikulum materi pelajaran yang dibuat sedemikian rupa menyesuaikan keadaan lingkungan nelayan dan pesisir. Misalnya dengan menyesuaikan jam sekolah dengan kebiasaan anak-anak nelayan yang kebanyakan ikut membantu orang tua melaut.
Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan membentuk Sekolah Lapang Kelautan dan Perikanan yang diharapkan dapat menjadi wadah pendidikan bagi masyarakat pesisir. Menurut Syarief Widjaja (Kepala BPSDMKP), Sekolah lapang bertujuan menjaring anak putus sekolah agar mendapatkan ijazah setara SMP sehingga bisa melanjutkan ke SUPM. Sekolah ini setara dengan program kerja paket A atau kejar Paket B. Bedanya, sekolah lapang ditambah dengan pelajaran yang banyak berhubungan dengan materi kelautan dan perikanan.
Saya sebagai pemuda yang merupakan agen perubahan ingin turut serta memberikan sumbangsih untuk kesejahteraan masyarakat pesisir dengan terjun langsung. Berbekal ilmu yang telah didapat baik dari bangku kuliah maupun di masyarakat sebelumnya, saya yakin dapat membawa perubahan pada masyarakat pesisir dalam bidang pendidikan.

*Ditulis sebagai persyaratan pendaftaran NST KKP 2014.
**Ditulis dengan mengutip dari berbagai sumber.

Narasumber Teknis Kelautan dan Perikanan

Disela-sela kelas malam

Perjalanan menuju BAPPL Serang

Bumi Cikeas Bogor

Olahraga pagi

Jika Seorang Penyanyi dan Lagu yang Berjodoh Bertemu = Masterpiece


Hitomi Wa Tojite

object>

….

asa mezameru tabi ni

kimi no nukegara ga yoko ni iru

nukumori wo kanjita

itsumo no senaka ga tsumetai

nigawarai wo yamete

omoi ka-ten wo akeyou

mabushisugiru asahi

boku to mainichi no oikakekko da

ano hi miseta nakigao

namida terasu yuuhi kata no nukumori

keshisarou to negau tabi ni

kokoro ga karada ga kimi wo oboeteiru

Your love forever

hitomi wo tojite kimi wo egaku yo sore dake de ii

tatoe kisetsu ga boku no kokoro wo okizari ni shite mo

itsuka ha kimi no koto

nanimo kanjinakunaru no ka na

ima no itami idaite

nemuru hou ga mada ii ka na

ano hi miteta hoshizora

negai kakete futari sagashita hikari ha

mabataku ma ni kieteku no ni

kokoro ha karada ha kimi de kagayaiteru

I wish forever

hitomi wo tojite kimi wo egaku yo sore shika dekinai

tatoe sekai ga boku wo nokoshite sugisarou to shite mo

Your love forever

hitomi wo tojite kimi wo egaku yo sore dake de ii

tatoe kisetsu ga boku wo nokoshite iro wo kaeyou to mo

kioku no naka ni kimi wo sagasu yo sore dake de ii

nakushita mono wo koeru tsuyosa wo kimi ga kureta kara

kimi ga kureta kara

….

[translate] >>menyusul

Lagu di atas merupakan sebuah lagu yg ngehits buanget-nget.

Dipopulerkan oleh Ken Hirai, tapi saya pribadi lebih suka versinya Leeteuk SJ sewaktu konser Super Show 3 di Jepang.

[ini saya katakan setelah mendengar rekaman dari keduany]

Hoho… kenapa?

(Sebelumnya maaf y buat Ken Hirai scara pribadi dan jg fansnya.  Tetep kog lagu ini jadi hits At the end of the world movie berkat Ken Hirai).^^

Oke lanjut, kenapa saya lebih suka yg versi Leeteuk ya karena lebih dapet ajh feelnya,, emosi yg ada sm laguny jg menurut q  lebih dapet, selain itu ada rasa kagum jg.

Karena maaf sedikit sarkas, tp yg saya pikirkan ketika pertma kali denger rekaman konsernya

Adalah “Wow, orang ini bisa ‘nyanyi’ juga?” .. [waktu itu saya baru-barunya kenal SJ]

Sebenarny klo boleh jujur kaget jg si leader kocak ny SJ ini ternyata bisa nyanyi amazing kyk gini. Pikiran pertama sih saya “ini apa lipsing kali ya??”. Tapi setelah didengar dilihat dan dirasakan lebih dalam.. hmmm… kayakny ini suara live asli deh. [coba buktikan dan cermati sendiri].

Soalnya selama ini image “singer”nya Leeteuk ini bener 2kyk uda “tenggelam” sama image MC, DJ dan entertainernya.

Saya pribadi menyimpulkan :

>>Sebuah masterpiece [suatu karya seni yg bener bikin km spontan blg “woow..!!”] dalam hal lagu bukan mutlak dari lirik, musik, penyanyi. Tapi suatu keindahan musik [dlm kasus ini adalah sebuah pertunjukkan musik atau lebih tepatnya konser] ada ketika adanya kecocokan ato boleh dibilang “Jodoh” ya kyk Leeteuk dan Hitomi Wo Tojite ini. Suara yg tepat untuk lagu yg tepat, apalagi ditambah dengan org yg tepat. Hehe… :D

Sekian. Konbanwa.

2110201/1:40

[lila_azka]

NB :

Kata “Masterpiece” di sini menurut wikipedia merujuk pada a creation that has been given much critical praise, especially one that is considered the greatest work of a person’s career or to a work of outstanding creativity, skill or workmanship.

PRODUK PANGAN TRANSGENIK

Pangan transgenik atau pangan rekayasa genetik merupakan pangan yang bahan dasarnya mengandung organisme yang telah mengalami rekayasa genetik yakni proses perubahan DNA atau susunan genetik makhluk hidup. Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan di beberapa negara, kerugian mengkonsumsi produk pangan transgenik ini dapat mengakibatkan berkurangnya daya tahan tubuh bahkan dapat menyebabkan kematian. Di Indonesia sendiri, produk pangan transgenik ini telah memasuki pasar dan dijual dengan bebas. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menunjukkan bahwa produk-produk impor yang telah dijual bebas di pasaran mengandung rekayasa genetik seperti produk makanan dengan merk Pringleys Potato dan Honig Maizena. Khusus untuk membatasi masuknya produk transgenik ke Indonesia sebenarnya sudah cukup banyak peraturan yang telah dibuat. Seperti pada Undang-Undang No.7 Tahun 1996 tentang Pangan Pasal 13 ayat (1) berbunyi bahwa pangan hasil rekayasa genetika wajib diperikasa keamanannya sebelum diedarkan. Diikuti dengan PP No. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan yang mewajibkan pencantuman keterangan pangan rekayasa genetika untuk pangan transgenik. Seiring dengan semakin banyaknya produk transgenik yang dijual bebas di Indonesia, perlu dilakukan penjaminan produk oleh pihak pelaku usaha dengan mencantumkan keterangan. Seharusnya pihak pelaku usaha dapat menjamin bahwa produknya aman dikonsumsi oleh konsumen seperti yang tertera pada Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Pasal 7 mengenai kewajiban pelaku usaha antara lain : memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan, menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku, memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan. Salah satu wujud dari penjaminan mutu oleh pelaku usaha kepada konsumen adalah pelabelan, namun untuk produk transgenik ini belum dapat diterapkan. Pihak pemerintah mengaku bahwa belum adanya petunjuk pelaksanaan menjadi salah satu alasannya seperti yang diutarakan Ketua YLKI. Melihat fenomena yang terjadi dan fakta yang ada di lapangan ini membuktikan bahwa baik pihak pemerintah maupun pelaku usaha terkesan tidak memihak kepentingan konsumen dan jauh lebih mementingkan kepentingan ekonomi. Kepentingan konsumen sepertinya dikesampingkan karena tidak didukung oleh perlindungan hukum yang jelas dan hanya mengejar keuntungan usaha. Pada kondisi ini hubungan kepentingan antara konsumen dan pelaku usaha menjadi tidak seimbang karena kepentingan konsumen terabaikan. Kedudukan konsumen menjadi secara hukum maupun ekonomi. Maka perlindungan konsumen perlu ditegakkan sebagai upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan dan proteksi kepada konsumen. Beberapa usaha perlindungan konsumen yang dapat dilakukan antara lain dengan cara mempertegas kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi oleh pelaku usaha untuk memenuhi hak konsumen seperti segera mempercepat pembuatan petunjuk pelabelan.

Prospek Industri Perikanan 5 Tahun yang Akan Datang

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki laut yang luasnya sekitar 5,8 juta km² dan menurut World Resources Institute tahun 1998 memilki garis pantai sepanjang 91.181 km yang di dalamnya terkandung sumber daya perikanan dan kelautan yang mempunyai potensi besar untuk dijadikan tumpuan pembangunan ekonomi berbasis sumber daya alam. Sedangkan pada kenyataannya saat ini Indonesia masih belum mengoptimalkan pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alamnya.

Berdasarkan laporan FAO Year Book 2009, saat ini Indonesia telah menjadi negara produsen perikanan dunia, di samping China, Peru, USA dan beberapa negara kelautan lainnya. Produksi perikanan tangkap Indonesia sampai pada tahun 2007 berada pada peringkat ke-3 dunia, dengan tingkat produksi perikanan tangkap pada periode 2003-2007 mengalami kenaikan rata-rata produksi sebesar 1,54%. Secara umum, tren perikanan tangkap dunia mulai menurun seiring dengan peningkatan kegiatan perikanan tangkap dan terbatasnya daya dukung sumber daya perikanan dunia.

Disamping itu, Indonesia juga merupakan produsen perikanan budidaya dunia. Sampai dengan tahun 2007 posisi produksi perikanan budidaya Indonesia di dunia berada pada urutan ke-4 dengan kenaikan rata-rata produksi pertahun sejak 2003 mencapai 8,79%. Secara umum, tren perikanan budidaya dunia terus mengalami kenaikan, sehingga masa depan perikanan dunia akan terfokus pada pengembangan budidaya perikanan.

Potensi lestari sumberdaya ikan laut Indonesia diperkirakan sebesar 6,4 juta ton per tahun yang tersebar di perairan wilayah Indonesia dan perairan ZEEI (Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia), yang terbagi dalam sembilan wilayah perairan utama Indonesia. Dari seluruh potensi sumberdaya ikan tersebut, jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 5,12 juta ton per tahun atau sekitar 80 persen dari potensi lestari, dan sudah dimanfaatkan sebesar 4,7 juta ton pada tahun 2004 atau 91.8% dari JTB. Sedangkan dari sisi diversivitas, dari sekitar 28.400 jenis ikan yang ada di dunia, yang ditemukan di perairan Indonesia lebih dari 25.000 jenis.

Di samping itu terdapat potensi pengembangan untuk perikanan tangkap di perairan umum seluas 54 juta ha dengan potensi produksi 0,9 juta ton/tahun, budidaya laut terdiri dari budidaya ikan (antara lain kakap, kerapu, dan gobia), budidaya moluska (kerang‐kerangan, mutiara, dan teripang), dan budidaya rumput laut,budidaya air payau (tambak) yang potensi lahan pengembangannya mencapai sekitar 913.000 ha, budidaya air tawar terdiri dari perairan umum (danau, waduk, sungai, dan rawa), kolam air tawar, dan mina padi di sawah, serta bioteknologi kelautan untuk pengembangan industri bioteknologi kelautan seperti industri bahan baku untuk makanan, industri bahan pakan alami, benih ikan dan udang, industri bahan pangan.

Peluang pengembangan usaha kelautan dan perikanan Indonesia masih memiliki prospek yang baik. Potensi ekonomi sumber daya kelautan dan perikanan yang berada di bawah lingkup tugas DKP dan dapat dimanfaatkan untuk mendorong pemulihan ekonomi diperkirakan sebesar US$ 82 miliar per tahun. Potensi tersebut meliputi : potensi perikanan

tangkap sebesar US$ 15,1 miliar per tahun, potensi budidaya laut sebesar US$ 46,7 miliar per tahun, potensi perairan umum sebesar US$ 1,1 miliar per tahun, potensi budidaya tambak sebesar US$ 10 miliar per tahun, potensi budidaya air tawar sebesar US$ 5,2 miliar per tahun, dan potensi bioteknologi kelautan sebesar US$ 4 miliar per tahun.

Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan sektor perikanan melalui Renstra (Rencana Strategis) Pembangunan Kelautan dan Perikanan untuk tahun 2010 – 2014. Kontribusi sektor perikanan terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2010 diharapkan mencapai 3,0%. Sasaran lain yang ingin dicapai adalah total produksi perikanan sebanyak 10,76 juta ton, nilai ekspor perikanan US$5 miliar, konsumsi ikan penduduk 30,47 kg/kapita/tahun, dan penyediaan kesempatan kerja kumulatif sebanyak 10,24 juta orang.

Produksi perikanan tahun 2008 yang berasal dari kegiatan penangkapan dan budidaya mencapai 9,05 juta ton. Dari total produksi tersebut perikanan budidaya menyumbang 47,49%. Laju pertumbuhan produksi perikanan nasional sejak tahun 2005-2009 mencapai 10,02% per tahun, dimana pertumbuhan budidaya sebesar 21,93%, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan perikanan tangkap yang hanya sebesar 2,95%. Sedangkan nilai produksi perikanan meningkat 15,61% dari Rp57,62 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp102,78 triliun pada tahun 2009. Jika dibandingkan pertumbuhan volume produksi terhadap nilai, maka pertumbuhan nilai lebih tinggi dari pada pertumbuhan volume. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa secara umum komoditas perikanan mengalami peningkatan kualitas dan kenaikan harga. Peningkatan produksi perikanan selama tahun 2005-2009. Tabel-tabel dibawah ini merupakan gambaran bahwa dari tahun ke tahun, produksi perikanan Indonesia mengalami peningkatan.

Sektor perikanan dan kelautan akan dapat menjadi salat satu sumber utama pertumbuhan ekonomi karena beberapa alasan, yakni :

  1. Kapasitas suplai sangat besar, sementara permintaan terus meningkat
  2. Pada umumnya output dapat diekspor, sedangkan input berasal dari sumber daya lokal
  3. Dapat membangkitkan industri hulu dan hilir yang besar sehingga dapat menyerap tenaga kerja yang cukup banyak
  4. Umumnya berlangsung di daerah-daerah
  5. Industri perikanan, bioteknologi dan pariwisata bahari memiliki sifat dapat diperbaharui, sehingga mendukung adanya pembangunan yang berkelanjutan

Analisis variable catch per unit effort (CPUE) pada perikanan tangkap dapat menunjukan kinerja pemanfaatan sumber daya perikanan sesuai daya dukung. Secara nasional CPUE menunjukan angka positif yang berarti penangkapan ikan masih dapat dilaksanakan, namun untuk beberapa wilayah pengelolaan perikanan (WPP) seperti di laut Jawa dan selat Malaka telah terjadi penangkapan berlebih (over fishing). Dari hasil simulasi untuk 10 tahun mendatang, produksi perikanan tangkap secara keseluruhan akan menurun, sehingga perlu upaya optimalisasi penangkapan, dan perlunya dilakukan pengurangan serta rasionalisasi jumlah armada tangkap. Sementara itu, perikanan budidaya untuk 5 tahun mendatang akan mengalami kenaikan rata-rata sebesar 4 % per-tahun dari total produksi. Pada tahun 2009 diperkirakan total produksi perikanan budidaya sebesar 1,5 juta ton. Selain itu, pada perikanan budidaya setiap tahun menunjukan trend peningkatan dalam volume ekspor, luas lahan, dan konsumsi masyarakat. Dalam hal pengembangan perikanan budidaya perlu diperhatikan pentingnya daya dukung lingkungan dan ketersediaan pakan yang berasal dari ikan.

Dunia industri sendiri keberadaanya selalu mengalami pasang dan surut. Begitu juga dengan agroindustri dan agrobisnis, khususnya industri perikanan yang merupakan penyumbang devisa bagi negara dari sektor nonmigas yang cukup besar. Melihat berbagai bukti peningkatan produksi perikanan dari tahun ke tahun, maka untuk tahun ke depannya Indonesia berpotensi mengalami peningkatan lagi atau memiliki prospek yang cerah.

Memperhitungkan bagaimana prospek industri perikanan pada masa 5 tahun yang akan datang setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni seperti ketersediaan modal, persaingan dengan negara lain dan  kondisi perekonomian global yang akan mempengaruhi peluang pasar. Terkait dengan kebijakan sendiri, kondisi politik negara ini yang sangat dinamis dan juga kemungkinan benturan kepentingan antara pihak terkait (baik antara kementrian, lembaga, dan individu) perlu diperhitungkan. Adanya fenomena global warming atau peningkatan suhu bumi juga perlu diperhatikan dalam memperkirakan prospek usaha perikanan yang akan datang.

  1. 1. Ketersediaan modal

Modal yang akan dibicarakan di sini adalah terkait dengan masalah pendanaan. Modal dapat diperoleh dari mana saja, misalnya dari tabungan (individu), pemerintah, investor (lokal maupun asing), dan pinjaman (bank, koperasi maupun pihak lain).

Bank sendiri yang merupakan pihak pemegang modal yang cukup besar dan berpotensi menyediakan kredit bagi pelaku usaha perikanan perlu meningkatkan jumlah dana yang dialokasikan untuk sektor perikanan dan kelautan. Selain itu konsep pengembangan perikanan “Minapolitan” yang dicanangkan oleh Menteri Perikanan dan Kelautan, Fadel Muhammad dapat menyediakan modal yang cukup untuk mendukung perkembangan industri perikanan 5 tahun mendatang yang lebih cerah.

  1. 2. Kondisi perekonomian global

Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dunia, permintaan terhadap produk‐produk kelautan dan perikanan di pasar dunia diperkirakan akan terus mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yakni :

  1. Meningkatnya kesadaran manusia terhadap produk perikanan sebagai makanan yang sehat untuk dikonsumsi karena mengandung nilai gizi yang tinggi, rendah kolesterol dan mengandung asam lemak tak jenuh omega 3 yang dapat meningkatkan kecerdasan.
  2. Dampak consumption mass dari globalisasi yang menuntut produk pangan yang dapat diterima secara internasional (food become more international), tanpa memperhatikan umur, kewarganegaraan dan agama. Komoditas ikan merupakan jenis produk pangan yang memenuhi syarat tersebut.
  3. Semakin berkembangnya industri farmasi, kosmetika dan makanan serta minuman yang sebagian besar bahan produksinya berasal dari biota perairan.

Secara umum perdagangan hasil perikanan dunia terus mengalami peningkatan rata‐rata sebesar 8,50% per tahun sepanjang tahun 1990‐an dengan nilai sekitar US$ 10,37 miliar. Laju pertumbuhan produksi dunia masih didominasi oleh perikanan tangkap, sekitar 80%, namun menunjukan pertumbuhan yang mendatar, yakni 1,7% per tahun. Hal ini membuka peluang bagi peningkatan produksi perikanan budidaya, khususnya budidaya laut. Negara‐negara tujuan ekspor dunia, khususnya untuk Indonesia, masih didominasi oleh Jepang (25%), Singapura (13%), USA (11%), Hongkong (7%), RRC (4%), dan Thailand (4%).

Sedangkan Presiden RI, Susilo Bambang Yodhoyono (SBY) didukung oleh para pengamat internasional pada pidato sambutan Pembukaan Rakrenas ke-14 HIPMI, pada 2 Maret 2010 yang lalu mengatakan bahwa masa 5 tahun mendatang merupakan masa keemasan bagi dunia usaha Indonesia, salah satunya bidang ketahanaan pangan.

  1. 3. Persaingan dengan negara lain

Persaingan yang dimaksud adalah secara sehat dan tidak sehat. Persaingan sehat misalya persaingan harga dan kualitas sedangkan persaingan tidak sehat dapat berupa tindakan curang oknum dari negara lain misalnya dengan pencurian ikan dan pembajakan nelayan Indonesia. Pelaku tindak pidana pencurian ikan harus benar-benar ditegakkan, tidak saja hanya operator yang bekerja di lapangan, namun juga pemilik perusahaan.

  1. 4. Kondisi politik negara

Dalam pengelolaan sumber daya perikanan Indonesia menurut UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan PP No.25 tahun 2000 masih diartikan bahwa kewenangan hanya berada di tangan pemerintah daerah. Padahal otonomi pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan harus dilihat sebagai bentuk pengelolaan bersama secara global dan memperhatikan kesetaraan, demokratisasi, dan partisipasi semua pihak.

Di sisi lain, pada kenyataannya pada masa 5 tahun mendatang akan terjadi pergantian kepemerintahan (Masa Pemerintahan SBY hanya sampai tahun 2014). Seiring bergantinya presiden kemungkinan besar akan membuat susunan kepemerintahan di bawahnya dalam hal ini bergantinya menteri perikanan dan kelautan (meski tidak menutup kemungkinan bahwa menteri yang sekarang akan menjabat lagi). Bergantinya para penentu kebijakan ini sedikit banyak akan berimbas pada berubahnya kebijakan-kebijakan sehubungan dengan sektor perikanan yang sudah ada karena kondisi politik Indonesia memang labil.

  1. 5. Kebijakan pemerintah

Dengan adanya peraturan pemerintah yakni pelarangan ekspor bahan baku produk perikanan segar yang belum diolah sama sekali. Maka industri perikanan khususnya bidang penanganan dan pengolahan akan semakin berkembang. Namun hal ini terkendala bahan bakunya semakin terbatas disebabkan oleh beberapa hal seperti perubahan iklim dan lingkungan untuk perikanan tangkap sedangkan untuk perikanan budidaya terdapat kendala masalah lahan dan penyakit pada ikan.

  1. 6. Benturan kepentingan

Disamping adanya potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang besar, terdapat pula potensi kelembagaan, seperti peranan Komisi Tuna, Komisi Udang, Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN), Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia (Gappindo), Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), Asosiasi Tuna Indonesia (Astuin), LSM Bidang Kelautan dan Perikanan, dll., di masa datang perlu terus disinergikan. Potensi lain adalah potensi sarana prasarana yang telah dimiliki, seperti layanan unit karantina ikan, balai pengembangan, balai riset, balai/loka budidaya, sekolah perikanan, dll. Disamping itu, ada pula potensi daerah yang telah menyusun Renstrada (Rencana Strategis Daerah) dibidang kelautan dan perikanan.

Pemerintah dan DPR bersama-sama perlu menghentikan upaya komersialisasi perairan pesisir, seraya menyegerakan lahirnya UU yang memberikan perlindungan terhadap hak-hak nelayan dan kesehatan perairan tradisional di Indonesia. Belakangan keputusan Mahkamah Konstitusi, memenuhi gugatan organisasi masyarakat sipil dan nelayan untuk membatalkan pasal-pasal terkait Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP3).

  1. 7. Pangsa pasar

Pada pasar Amerika Serikat sendiri, setelah Indonesia mengadakan pameran produk perikanan ternyata mereka menyukai produk perikanaan yang berupa olahan atau yang sudah digoreng (dried shirmp dan dried fish). Ini merupakan pangsa pasar yang sangat luas untuk produk-produk perikanan Indonesia, mengingat Amerika memiliki penduduk yang jumlahnya lumayan tinggi dan semakin meningkatnya kesadaran tentang makanan sehat salah satunya adalah seafood, daripada daging ternak lainnya (sapi, ayam dll). Beragamnya sumber daya perikanan Indonesia dibandingkan negara eksportir lainnya menjadikan keunggulan kompetitif tersendiri. Selain itu peraturan dan kebijakan yang terkait dengan eksport produk perikanan Indonesia ke salah satu negara maju ini tidak seketat dibandingkan dengan negara tujuan ekport lainnya seperti Uni Eropa yang memiliki Rapid Alert for Food and Feed (RASFF) dan EU Food Legislation.

KESIMPULAN

Indonesia akan memiliki prospek bisnis perikanan yang cerah 5 tahun mendatang jika pelaku usaha, pemerintah dan para stakeholder yang terkait jika faktor-faktor seperti ketersediaan modal, perekonomian global, kebijakan pemerintah, persaingan dengan negara lain, kondisi politik negara, dan pangsa pasar dapat diperhatikan dan terpenuhi dengan baik. Setelah memperhatikan kondisi dan permasalahan yang telah dihadapai, maka diperlukan inovasi dan strategi kebijakan dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan, mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan yang seharusnya memiliki wawasan kelautan dalam pembangunan nasional.

SUMBER PUSTAKA

  1. Buku Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2009-2014.
  1. Buku Rencana Strategis Pembangunan Kelautan dan Perikanan Tahun 2005-2009.
  1. Media Data Riset : Surat Penawaran “Daftar Peraturan Sektor Perikanan Indonesia“ diterbitkan pada bulan Februari 2011.
  1. Data hasil kegiatan pameran perikanan terbesar di dunia, yakni Boston Seafood Exhibiton Show dan Seminar on Fish pada tanggal 11-13 Maret 2007.
  1. Artikel “Presiden : 5 Tahun kedepan Peluang Dunia Usaha” diterbitkan pada tanggal 2 Maret 2010, di situs http://infobanknews.com
  1. Artikel “Fadel Minta Perbankan Kucurkan” diterbitkan pada tanggal 29 Desember 2009, di situs http://bataviase.co.id
  1. Kajian “Strategi Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan” oleh Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Direktorat Kelautan dan Perikanan.

Bad Mood, Labil dan Galau….

Dulu dikalangan kita pernah sangat terkenal kata BM (baca : Bad Mood), lalu beberapa saat kemudian muncul kata “labil” yang akhirnya lebih mengarah pada perilaku bocah-bocah ABG dan baru-baru ini kita tentu akrab dengan kata beken “Galau”. dan jika pembaca kurang puas dengan definisi saya, mungkin bisa tanya kepada mbah gugle langsung….

Sekilas 3 buah kata popular di atas mengarah pada kondisi psikis sesorang dimana seseorang yang sedang mengalami salah satu, atau pun salah tiga dari kondisi di atas menjadi tidak enak untuk melakukan kegiatan apapun atau. Tapi jika saya pribadi telisik lebih dekat lagi, ujung dari semua kondisi psikis seperti BM, labil maupun galau ini adalah MALAS. yahhhh… saya sendiri mengakui bahwa ketiga kata di atas sangat tepat untuk menggambarkan keadaan sayaa dikala waktu sedang sangat malas sekali…. dan umumnya orang yang mendengar alasan ini dapat menerima meskipun dengan berat hati.

Apakah cukup sampai di sini persoalannya???  apakah lawan bicara bahkan teman kita pantas untuk menerima pembenaran sikap kita yang malas padahal mereka sangat mengharapkan partisipasi kita dalam urusan mereka…??

Mari kita simak penjelasan yang dapat menambah referensi topik bahasan kita ini :

“Dalam salah satu sikap, kita mengenal 2 jenis sikap manusia yang paling mendasar, yaitu Reaktif danProaktiforang orang yang moody termasuk dalam klasifikasi orang yang reaktif.

Ciri ciri orang yang proaktif adalah:
Tidak menyalahkan keadaan, kondisi, atau pengkondisian terhadap perilaku mereka, sehingga segala tindak tanduk prilaku mereka adalah produk dari pilihan sadar mereka, berdasarkan nilai, bukan produk dari kondisi mereka berdasarkan perasaan.

Sedangkan yang moody atau seseorang yang reaktif memiliki ciri ciri.
Dipengaruhi oleh lingkungan fisik mereka, misalnya, jika cuaca bagus, maka mereka akan senang jika ngga, maka cuaca tersebut akan mempengaruhi sikap mereka bahkan pengaruh kerja mereka.

Orang yang proaktif dapat mengatur emosional nya sendiri, cuaca nya sendiri, sehingga jika cuaca hujan atau cerah tidak akan mempengaruhi sikap mereka, kenapa hal tersebut demikian, karena mereka di gerakan oleh nilai nilai, jika nilai mereka adalah untuk bekerja yang berkualitas maka kita dapat menilai fungsi cuaca ini seharusnya akan membantu menyokong nilai kita atau tidak.

rang reaktif dipengaruhi oleh lingkungan sosial kita, sebutlah cuaca sosial, ketika orang memperlakukan mereka dengan baik maka mereka akan senang, sebaliknya jika orang tidak memperlakukan mereka dengan baik maka mereka akan menjadi defensif dan protektif, dari sini kita bisa ambil kesimpulan, orang yang reaktif membangun kehidupan emosional mereka disekitar perilaku orang lain memberi kekuatan pada kelemahan orang lain untuk bisa mengendalikan mereka.
Orang yang reaktif digerakan oleh perasaan, oleh keadaan oleh kondisi, dan oleh lingkungan mereka.
Orang yang proaktif digerakan oleh nilai, nilai nilai yang dipikirkan secara cermat diseleksi dan dihayati.”

Sumber : http://bit.ly/lF2Vyn

nahh… saya harap kutipan artikel di atas dapat menjadi referensi bagi kita yg masih suka BM, labil dan galau ini meskipun saya sendiri masih didominasi perasaaan-perasaan tidak ini.

hehe… so keep spirit guys…!!!

jangan tunggu semangat itu datang,,, carilah semangat…. !!!

bentuk kepercayaan dirimu sendiri… !!! maka kamu adalah pemenang dari dirimu sendiri…!!!

nge-blog mencegah tumbuhnya kutil di kepala

Bansai….!!!! Perkenalkan, saya hanyalah seorang manusia biasa yang memiliki keinginan luar biasa untuk dapat berguna dan dapat membahagiakan orang-orang disekitar saya. Blog ini saya buat khusus digunakan sebagai “tempat sampah-sampah” hal-hal yang sedang mengganggu otak saya ini namun sekiranya masih bisa sedikit berguna bagi orang lain. hmmm…. yah daripada sebuah “sampah” hanya disimpan sendiri dan bikin “kutil di kepala”. hehehhe… ^_^’

Mengapa orang-orang jaman sekarang sampai-sampai harus “nyampah” di blog seperti saya ini…??!! hmm…. saya pribadi melihat bahwa fenomena diary sudah terlalu jadul, belum juga tulisan saya ini sungguh sangat abstrak…. hehehhe… lebih utamanya, saya ingin anda sekalian terutama yang sedang membaca blog “sampah” saya ini  dapat sedikit ikut menikmatinya…. dan jika anda termasuk penikmat atau pembaca “sampah-sampah” yang BAIK dan BUDIMAN diharapkan “membuang” KOMENnya di sini supaya di kepala anda tidak malah tumbuh “kutil” akibat memendam kecintaan kepada “sampah-sampah” yang saya buat… ehehhe….

-tertanda @tukangnyampah-